Pengalaman Mata Batinku di Buka

Pengalaman Mata Batinku di Buka

Pengalaman pribadi yang sudah lama ingin kulupakan.

Kebetulan waktu SMP aku dan teman sekelas akan menghadiri undangan dari perguruan tinggi pencak silat di daerah kami, ini bukan pertandingan antar sekolah hanya saja beberapa sekolah di undang untuk menaikkan tingkatan kemampuan bela diri. Kebetulan hanya satu minggu acara yang di adakan. Hari pertama,kedua,ketiga, berjalan lancar, malam di hari ketiga pembina mengadakan pertandingan unjuk kemampuan dan siapa yang lebih kuat. Dan waktu itu ketua kelompok kami lah yang unggul.

Dan pada malam keempat kami di kumpulkan, sialnya! Karna ketua kami unggul kemarin malam, kami harus mnjadi kelompok pertama yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan BUKA MATA BATIN. Kami harus melaksanakan beberapa ritual. Seperti membasuh muka dengan air yang sudah di campur dengan kembang tujuh rupa dan menyan. Kemudian melafalkan ayat-ayat yang di bacakan oleh pembina. Kamipun maju menelusuri pemakaman satu persatu. Tidak ada yang di perbolehkan untuk mencari kawan ataupun menyerah sebelum mendapat kain putih yang bertuliskan lambang perguruan silat ini, saat giliranku tak terjadi apapun! karena hanya di beri satu buah lilin tanpa korek, aku dan yang lain sangat kesusahan untuk bertemu, apalagi perwakilan dari sekolahku hanya 10 orang.

20 menit berlalu, aku melihat kain putih dibalik pohon besar yang kemungkinan sudah berumur puluhan tahun, saat aku hendak mengambilnya tak ada fikiran buruk sama sekali, betapa terkejutnya aku, yang kutemukan bukan hanya kain tapi juga pemakainya. Ya! Kakek berjenggot dan berambut putih panjang sekali.

Dia mengawasiku, namun tak ada rasa takut yang aku alami, energinya sangat positif, bahkan terasa aku sedang di kelilingi ribuan bunga melati, saat aku melangkah pergi dia berkata "panggil saya mbah gandrong bocah kecil".

"Apa yang mbah lakukan disini? Apa mbah itu hantu?" Maklum aku belum pernah bertemu hantu sedekat ini.
" saya penunggu pohon tua ini, setiap hari saya di buat marah oleh ulah para muda mudi yang berani datang kemari hanya untuk memuaskan nafsu birahi mereka, padahal jika kau lihat ke atas pohon, kami ada banyak.

Refleks aku menengadah ke atas dan aahhh sial! Dasar sialan! Tak tau sejak kapan kuntilanak ini berada di atasku sambil memainkan kakinya. Tapi? Tidak seperti yang kulihat di film-film horor. Kuntilanak ini tidak menyeramkan, bahkam wajahanya tidak hancur ataupun banyak mengalir darah. Tak ada aura negatif sama sekali.

"mbah tau apa yang sedang kmu pikirkan, ingatlah satu pesan yang mbah sampaikan ini, makhluk apapun yang mengganggu manusia hanyalah penjelmaan dari jin, dan jika para manusia melihat wajah kami dengan buruk rupa, atau sangat menyeramkan, maka itu adalah ulah mereka sendiri"
"Hah? Bagaimana bisa mbah?" Entah sejak kapan aku bisa berbicara dengan jin tua ini?
"Kuntilanak itu menampakkan wajah aslinya karena dia mengetahui fikiranmu yang bersih, berbeda dengan mereka yang fikirannya selalu terbayang dengan wajah-wajah makhluk yang menyeramkan, jadi penampakan sundel bolong, pocong, maupun yang lain itu terjadi akibat gambaran dari fikiranmu.

Setelah berbicara dia menghilang, saat aku menjauh dari pohon itu dan berbalik melihat sekali lagi ternyata banyak sekali penghuni disana, namun mereka tidak menghiraukanku, mungkin karena aku sekarang dalam posisi pikiran blenk.

Setelah mendapat kain putih aku membayangkan rupa dari pocong seperti di film, tak butuh waktu lama bau anyir menyergapku, dan dia muncul dengan tampang yang aku gambarkan, tapi lebih menyeramkan

Setelah aku tersadar aku sudah ada di bus dan guru bilang aku pingsan semalaman akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, anehanya para pembina lupa menutup batinku. Sampai SMA aku mempertahankannya banyak sekali yang terjadi, dan cerita-cerita ku yang sebelumnya di rumah sakit maupun waktu magang itu terjadi saat aku habis nonton film horor, jadi mereka menampakkan wujud seperti bayangan kepalaku, mereka ada. Mereka punya tempat, mereka juga punya masa lalu dan keluarga.

NB: mbah gandrong berbicara dalam logat bahasa jawa tapi disini saya menggunakan bahasa indonesia

Keywords : mata batin, pengalaman dibuka mata batin

Share: