Tante Cantik Penghuni Lemari Baju Anak Saya

Tante Cantik Penghuni Lemari Baju Anak Saya

Putri Semata Wayangku Gemar Corat-Coret Wajah Dengan Lipstik

Nama saya Linda, seorang janda beranak satu, saya telah bercerai enam tahun lalu. Saya tinggal bersama anak perempuan semata wayang yang baru berusia lima tahun. Berstatus janda sama sekali tidak terbesit dalam pikiran, tak pernah terbayangkan jika kami akan berpisah di tahun ketiga pernikahan. Menjalani hidup dan mengurus anak sendirian, itu penuh tantangan.

Saya harus berjuang mengais rejeki seorang diri demi si buah hati. Biaya hidup sehari-hari kadang masih dibantu orang tua, karena saya hanya seorang pebisnis katering rumahan. Sejak saya bercerai, usaha katering menjadi penopang kebutuhan sehari-hari. Penghasilan yang saya dapat tidak pasti, kadang ada yang pesan kadang tidak ada sampai berminggu-minggu.

Semua saya jalani dengan penuh iklas, tak pernah sedikitpun mengeluh, mungkin ini jalan terbaik dari Tuhan. Saya memilih bercerai karena sudah tidak ada kecocokan, mungkin karena sama-sama ego, kami memang menikah muda. Sudahlah, lupakan saja cerita saya yang tidak penting ini. Saya dikaruniai seorang anak perempuan yang lincah dan pintar.

Alin adalah nama gabungan dari Anton (ayahnya) dan Linda (nama saya), wajahnya mirip sekali dengan ayahnya. Usia Alin sekarang genap lima tahun, rambutnya panjang karena tidak pernah mau dipotong. Semakin hari Alin tumbuh semakin pintar, dialah tempat curhat saya selama ini. Walaupun masih kecil, tapi seolah-olah mengerti kondisi saya.

Dia tidak pernah rewel, tidak suka nangis, hobinya nonton film kartun dan mainan lipstik. Dia suka mencorat-coret lantai, tembok, baju dan wajahnya sendiri dengan lipstik. Setiap saya sibuk masak untuk pesanan katering, saya biarkan dia main sendiri di kamarnya. Asal sudah ada lipstik dan Ipad buat nonton kartun, dia sudah anteng.

Tante Cantik Penghuni Lemari Baju Anak Saya

“Setiap Malam Tingkah Alin Semakin Aneh”

Saya memang sering mendengar Alin ngobrol sendiri, seperti sedang berbicara dengan seseorang. Awalnya saya tidak curiga, karena tingkah anak seusia Alin memang begitu, seperti halnya anak-anak yang lain. Sesekali saya mendengar Alin memanggil “ante”, maksudnya tante, tapi saya biarkan. Dalam pikiran saya, tante yang dipanggilnya mungkin kartun yang ditontonnya.

Suatu hari, ketika sedang saya mandikan, dia sempat memanggil seseorang “ante cini, ante cini” katanya. Sampai detik itu, saya belum berfikir apa-apa. Semakin lama, saya merasa curiga, kenapa setiap kali Alin mandi, pasti memanggil seseorang dengan sebutan tante. Sempat saya bertanya, “tante siapa sih nak?” dan anak saya hanya menjawab “itu”, sambil menunjuk ke arah pintu kamar tidurnya.

Saya benar-benar dibuat penasaran, sebab apa yang ditunjuknya itu hanya pintu kamar, tidak ada siapa-siapa di sana. Sebenarnya apa yang dia lihat, dan siapa yang selalu dipanggil tante. Tadinya saya biarkan saja, tapi lama kelamaan membuat saya jadi kepikiran. Sempat melintas dalam pikiran, “ini anak lihat hantu kali ya, ah! gak mungkinlah”, saya bertanya dan saya jawab sendiri.

Ternyata tingkah aneh Alin terus berlanjut, tiap mau tidur pasti cerita tentang si tante itu. Entah sudah berapa kali Alin menceritakannya, tapi saya berusaha tidak peduli. Hinga suatu malam, Alin tidak mau tidur padahal sudah jam 1 pagi. Saya bicara sambil mengelus kepalanya “ayo nak bobo, ini udah malem”. Sedikit kaget, saat Alin menjawab bahwa “antenya egi”, tantenya pergi katanya.

“Anak Saya Berteman Dengan Hantu”

Sejak saat itu, perasaan saya campur aduk tidak karuan, antara bingung, was-was dan takut. Pernah saya tanya, “tante itu namanya siapa nak?, anak saya menjawab Acin. Mungkin maksud anak saya, tante itu namanya Asih. Setiap malam saya semakin gelisah, terlebih kalau anak saya mulai cerita tentang tante itu lagi, membuat saya takut.

Anak saya bercerita kalau sosok misterius itu tinggal di dalam lemari baju. Menurutnya, tante itu cantik, berambut panjang dan berbaju merah. Coba bayangkan, siapa yang tidak merinding, saya di rumah hanya tinggal berdua. Kendati saya tidak pernah melihat sosoknya, tetapi anak seusia Alin tidak mungkin berbohong dengan apa yang dilihatnya, jelas ada yang tidak beres di rumah ini.

Puncak ketakutan saya, ketika keesokan harinya saya sedang membersihkan lemari baju itu. Tiba-tiba saya mencium aroma bunga yang sangat kuat. Benar saja, saya melihat tumpukan bunga melati berada di atas lipatan baju anak saya. Saat bunga hendak saya ambil, Alin langsung teriak “itu ante antik” sambil menunjuk ke atas lemari, seketika detak jantung terasa berhenti. Tanpa pikir panjang, saya langsung menggendong anak saya dan membawanya pergi.

Keywords : anak berteman dengan setan, anak didekati setan

Share: