Review film The Invisible Man Bahasa Indonesia

Review film The Invisible Man Bahasa Indonesia

INDORAMAL.COM - Sari cerita dalam novel yang menjadi sumber ide film ini memang luar biasa. Hingga beberapa kali diangkat ke layar lebar. Nah, di review film The Invisible Man 2020 ini saya akan komentari apa saja yang menjadi kelebihannya dibanding versi-versi terdahulu.

The Invisible Man merupakan film bergenre horror, Sci-Fi, thriller yang sebelumnya telah dibuat beberapa kali berdasarkan kisah novel dengan judul yang sama karya H. G. Wells.

Alur cerita

Cecilia Kass (Elisabeth Moss), merasa amat terkekang dalam hubungannya dengan Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen),- seorang ilmuwan kaya dan brilian namun sangat posesif dan temperamental. Sekalipun Ia tinggal dalam sebuah rumah mewah nan modern yang berlokasi di sekitar Pantai Stinson, yang sangat jauh dari keramaian.

Suatu saat di tengah malam, Cecilia mencoba kabur di kala sang kekasih sedang terlelap akibat obat penenang yang secara sengaja dicampur dalam minumannya.

Dibantu saudara perempuannya Emily (Harriet Dyer), Kass berhasil sampai ke rumah James (Aldis Hodge), teman Emily yang berprofesi sebagai seorang polisi. James sendiri, memiliki anak perempuan usia remaja bernama Sydney (Strom Reid).

2 minggu setelah kabur, kondisi psikologi Cecilia dikisahkan drop. Ia terus menerus dibayangi kegelisahan, hingga tak berani keluar rumah. Saat itulah, mendadak ia mendengar kabar bahwa mantan kekasihnya telah meninggal dunia.

Adrian disinyalir melakukan bunuh diri karena tertekan. Yang menambah shock Cecilia, Adrian ternyata mewariskan seluruh hartanya yang sangat besar padanya.

Namun, Cecilia merasa ada yang mengganjal dari kematian Adrian. Bukannya merasa tenang, justru Ia merasa selalu ada yang mengawasi. Keadaan menjadi kian mencekam saat sosok misterius tersebut tak hanya mengganggu Cecilia, tapi juga mengancam kehidupan orang-orang yang dia cintai.

Cecilian berusaha keras membuktikan bahwa dia sedang diburu oleh seseorang yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Tapi hal tersebut malah membuat kewarasan Cecilia dipertanyakan.

“what you can’t see can hurt you”

Karakter

Cerita film ini terasa sekali meng-highlight sifat paranoid seorang manusia yang dipertajam dengan transisi antara nalar dan supranatural. Cecilia khususnya, menjadi karakter kunci yang wataknya bertransformasi seiring kenyataan-kenyataan yang Ia temui.

Bagaimana awalnya Ia sangat menatasnamakan logika, hingga akhirnya mau menerima hal-hal di luar nalar. Sang produser juga sangat baik menghadrikan plot-twist hingga penonton tak merasa ada sisi munafik dari transisi watak Cecilia.

Elisabeth Moss, terlihat sangat menjiwai hingga benar-benar bisa melekat ke dalam peran Cecilia yang ia bawakan. Ditambah dari segi makeup, juga pakaian yang dikenakan makin mendukung performanya.

  • Pemeran

Selain dibintangi sang peraih Emmy dan Golden Globes Award, Elisabeth Moss,- film ini diramaikan penampilan Oliver Jackson-Cohen (The Haunting of Hill House), Aldis Hodge (Straight Outta Compton, Black Mirror), Storm Reid (A Wrinkle in Time), Harriet Dyer, Amali Golden, dan Sam Smith.

Nama terakhir mungkin cukup membuat kaget, walau ternyata faktanya,- bukan Sam Smith si penyanyi asal Inggris yang hadir di film ini.

Sinematografi

Penggarapan film ini hasil kerja sama antara Universal Pictures dengan Blumhouse Production, dengan sutradara Leigh Whannell. Wajar, jika detail visual dan scoring menempatkan versi 2020 ini menjadi yang paling klimaks dibanding versi-versi terdahulu.

Secara keseluruhan, The Invisible Man (2020) terbilang cukup berhasil. Terutama dari scoring dan akting para pemain, walau secara visual saya mencatat ada beberapa glitch kecil,- terutama dari special effect yang terlihat kurang maksimal.

Film yang mulai tayang di bioskop Indonesia mulai 26 Februari 2020 ini, memberikan ketegangan sejak awal hingga akhir. Berdurasi 2 jam, membuat penonton seolah sulit bernapas, dan terus bertanya-tanya tanpa jeda. Bahkan dengan beberapa plot twist yang ngga terduga.

Unique

Memang sangat beralasan film ini dilabel kategori film 17+. Karena sangat tidak dianjurkan anak di bawah umur turut menyaksikannya. Adanya humor dalam film ini pun cuma nampak beberapa detik.

Buat kalian yang tidak suka adegan mengerikan dengan banyak darah namun penasaran, harus bersiap tutup mata, sedikit berteriak, atau bahkan memegang erat penonton yang disebelah kalian.

Setelah melihat langsung dan menuangkan dalam artikel review film The Invisible Man ini, saya sekilas berfikir, entah akan seperti apa kalau yang ada di dalam film ini, benar-benar terjadi dalam dunia nyata.

Keywords : review the invisible man, review film horror

Share: