Pengejar UFO: “Alien Tak Musnahkan Bumi, Tapi Diam-Diam Pelajari Manusia”

Pengejar UFO: “Alien Tak Musnahkan Bumi, Tapi Diam-Diam Pelajari Manusia”

Beberapa program pencarian pesawat Extra Terrestrial atau E.T. (orang awam menyebutnya sebagai pesawat alien atau UFO) yang dilakukan Amerika Serikat sejak masa lalu, baik itu oleh badan intelijen CIA, US Air Force atau Departemen Pertahanan AS, satu per satu terkuak melalui serangkaian proyek-proyek rahasia yang dijalankan mereka.

Memang nyata, ada sejumlah lapisan atau “layers” di dalam dunia intelijen Amerika Serikat dalam strukturnya untuk menyelidiki sesuatu hal yang sangat teramat rahasia. Namun pihak pemerintah AS atau lembaganya yang terkait, selalu menolak kebenaran suatu peristiwa rahasia yang mereka lakukan.

Selain memang menjalankan proyek, operasi, misi rahasia, atau sangat rahasia, pemerintah AS juga telah membuat badan antisipasi untuk melawan isyu terkait, yang dapat menghancurkan kerahasiaan dari misinya.

Lapisan keamanan untuk “penolakan isyu” dari misi yang sedang atau telah mereka lakukan bernama “Layers of US Security Clearance” yaitu badan-badan rahasia yang terdiri dari lapisan-lapisan yang sesuai dengan tingkatannya, yang memiliki tugas untuk mengantisipasi penelitian yang sedang dilakukan oleh masyarakat atau siapapun.

Dalam hal ini terdapat 6 lapisan terbawah, 28 lapisan tengah dan 10 lapisan teratas. Para peneliti dan pakar konspirasi dunia biasanya hanya dapat menembus pada lapisan terbawah dan tengah. Dapat dihitung jari untuk bisa menembus lapisan teratas.

Layers of US Security Clearance, adalah lapisan atau layer intelijen AS yang dibuat untuk “menolak” isyu tentang semua proyek rahasia sesuai dengan “tingkatan kerahasiaannya”.

Beberapa dari kegiatan tahasia AS dinamakan “project”, tapi banyak darinya tak diketahui masyarakat dunia.

Tugas Layers of US Security Clearance adalah untuk menolak dan mementahkan isyu dan konspirasi tentang fakta dan kebenaran yang ada, yang telah atau sedang mereka kerjakan berdasarkan tingkatannya masing-masing.

Proyek-proyek itu semuanya memang bersifat rahasia bahkan diatas rahasia (over top secret), dibentuk dalam upaya untuk mencari bukti-bukti dari laporan-laporan tentang UFO dan alien atau ET yang ada di Bumi baik secara penampakan objek terbang tak dikenal, atau berupa penampakan fisik atau melalui multidimensional. (baca: Proyek-Proyek Super Rahasia & Organisasi Buatan AS Untuk Mencari Alien).

Salah satu laporan yang paling baru dan paling menarik datang dari seorang mantan pilot tempur Angkatan Laut AS bernama David Fravor, dalam peristiwa penampakan UFO yang ia kejar dengan pesawat F-18 Hornet, atau yang dikenal sebagai “USS Nimitz UFO incident”.

Pilot bernama David Fravor mengaku melihat sebuah objek terbang misterius bergerak dalam pola dan kecepatan yang tak bisa dijelaskan oleh kaidah-kaidah fisika yang dipelajari di Bumi. (baca: [USS Nimitz UFO Incident] Pertama Dalam Sejarah, Pentagon Rilis Video Jet Tempur Kejar UFO!).

Pengalaman yang kini mantan pilot USAF, David Fravor ini, adalah bukti dan fakta nyata secara saintifik, yang memperkuat keyakinan para ilmuwan bahwa alien benar-benar ada. Dan mungkin tak sekedar ada, tapi alien diduga diam-diam mempelajari Bumi, manusia dan peradabannya.

Keyakinan ini salah satunya juga dikemukakan oleh seorang astronom bernama John Ball dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebuah kampus terkemuka di Amerika Serikat. John Ball berpegang pada apa yang disebut sebagai “zoo hypothesis” atau jika diterjemahkan kira-kira berarti “hipotesis kebun binatang”.

Kamera infrared pesawat tempur F-18 mendeteksi dan mengunci objek UFO dalam peristiwa USS Niimitz UFO Incident pada tahun 2004 (kiri) yang diambil saat dikejar oleh pilot David Fravor (kanan). Peristiwa dengan bukti otentik dan saintifik ini baru dirilis 13 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2017.

Manusia lebih penting bagi Alien

John Ball, dalam sebuah karya ilmiah bertajuk “Extraterrestrial Intelligence: Where is Everybody?” yang diterbitkan baru-baru ini di situs MIT, menjelaskan dua kemungkinan soal keberadaan peradaban alien di alam semesta.

Kedua kemungkinan itu adalah:

Pertama, menurut dia, peradaban alien benar-benar ada dan beberapa dari alien-alien itu tertarik untuk meneliti manusia. Karena itu, beberapa “ilmuwan alien” dari spesies mereka, diam-diam menyelidiki dan mempelajari manusia. Dengan kata lain, baru hanya segelintir alien yang mengetahui keberadaan manusia di alam semesta ini.

Kedua, Ball mengemukakan bahwa alien benar-benar ada dan semua peradaban alien menilai bahwa manusia penting untuk diteliti. Karena itu, mereka secara diam-diam dan sangat hati-hati mempelajari manusia.

Menurut John Ball, jika alien benar-benar ada di galaksi lain dan mereka memiliki kemampuan untuk memusnahkan kehidupan di Bumi, namun sampai sekarang mereka memilih untuk membiarkan peradaban manusia tetap lestari, maka ada dua penjelasan untuk hal itu.

“Kita lebih berharga bagi mereka dalam kondisi hidup ketimbang dalam keadaan hancur, atau karena kita tak mengganggu apa yang sedang mereka kerjakan. Lagi pula, bagaimana kita bisa mengganggu mereka? Kita bahkan belum bisa pergi melampaui sistem tata surya kita sendiri,” jelas John Ball.

Kamera infrared pesawat tempur F-18 mendeteksi dan mengunci objek UFO dalam peristiwa USS Niimitz UFO Incident pada tahun 2004. Peristiwa dengan bukti otentik dan saintifik ini baru dirilis 13 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2017.

Zoo Hypothesis

Hipotesis kebun binatang atau “Zoo Hypothesis” dikemukakan oleh DR. John Ball pada tahun 1973 melalui makalah tesisnya. Ia berspekulasi mengenai perilaku dan eksistensi kehidupan ekstraterrestrial (ET) yang secara teknis maju dan alasan mengapa mereka menahan diri untuk tidak berhubungan dengan manusia Bumi dan merupakan salah satu dari banyak penjelasan teoretis untuk Paradoks Fermi.

Hipotesis dari Zoo Hypothesis adalah bahwa kehidupan alien sengaja menghindari komunikasi dengan Bumi, walau mereka jauh atau bahkan kemungkinannya sudah ada di Bumi. Salah satu interpretasi utamanya adalah bahwa hal itu memungkinkan evolusi secara alami, pengembangan sosiokultural, dan menghindari kontaminasi antarplanet.

DR. John Ball perilis hipotesis “Zoo Hypothesis”

Atau pengertian secara lebih sederhana: Peradaban di Bumi berikut manusia dipantau oleh ekstraterrestrial, baik dari jauh atau dari jarak sangat dekat, mirip seperti para ilmuwan ketika meneliti binatang atau hewan, baik itu di alam liar atau di kebun binatang, namun hewan yang diselidiki atau diteliti, tidak mengetahui bahwa mereka sedang dipantau oleh para ilmuwan yang sedang menelitinya.

Hal ini mirip jika Anda menonton program penelitian atau kehidupan hewan di channel Animal Planet, Natinal Geographic atau Discovery Channel, dimana para peneliti hewan yang terkait bersembunyi

Namun, karena keterbatasannya hewan yang diteliti tak mengetahui keberadaan para peneliti, walau mereka diamati, di foto, dipasangi kamera tersembunyi dan alat-alat penelitian lainnya.

Lagi pula, para peneliti tersebut tak akan mau mengganggu kehidupan dan proses alamiah yang terjadi pada mereka, peneliti tak akan mau menolongnya, walau hewan yang dipantau dari spesies yang nyaris punah dan sedang dimakan oleh hewan lainnya.

Peneliti tetap membiarkan proses alami secara alamiah harus berlangsung terhadap hewan itu sesuai kodrat dan seleksi alam.

Dalam makalah Zoo Hypothesis, DR. John Ball menyimpulkan bahwa alien benar-benar ada, mereka memiliki kecerdasan dan teknologi di atas manusia, serta memiliki kekuatan hingga pada tingkat tertentu mampu menguasai galaksi.

“Manusia belum bisa menemukan kehidupan alien, karena kita belum memiliki kecerdasan yang cukup untuk sampai pada tahap itu”, tulis Ball.

Ia yakin kita akan berjumpa alien ketika teknologi kecerdasan buatan sudah sempurna, dan ketika hambatan-hambatan dalam proses berpikir manusia disempurnakan oleh otak komputer. Teori Ball itu sendiri disusun untuk berusaha menjawab salah satu teka-teki paling mahsyhur dalam dunia sains, yaitu: Fermi Paradox atau Paradoks Fermi.

Fermi Paradox

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d4/Enrico_Fermi_1943-49.jpg/387px-Enrico_Fermi_1943-49.jpg

Enrico Fermi (1901–1954), pencetus Fermi Paradox.

Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis, apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan, dasar pemikiran, alasan, asumsi, kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika, atau diakui kebenarannya, atau bertolak dari suatu pernyataan, dan kemudian akan menjadi kelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi.

Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan paradoks tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan juga bukan sebuah kontradiksi, atau “premis”nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul).

Sedangkan dalam hal Paradoks Fermi, adalah kontradiksi antara perkiraan kemungkinan keberadaan peradaban ekstraterestrial (makhluk cerdas luar Bumi) yang kemungkinannya sangat tinggi, namun dengan kurangnya bukti atau hubungan dengan peradaban semacam itu. Enrico Fermi (1901–1954) mengeluarkan paradoksnya sekitar tahun 1950-an.

Umur alam semesta dan banyaknya jumlah bintang mengakibatkan munculnya pandangan bahwa pastilah ada kehidupan di luar sana. Dalam perbincangan pada tahun 1950, fisikawan Enrico Fermi mempertanyakan:

“Apabila sejumlah peradaban ekstraterestrial yang maju ada di Bima Sakti, mengapa bukti seperti pesawat angkasa tidak dapat ditemui?”.

Universe can seen atau Jagad Raya yang dapat teramati langsung dari teleskop.

Akibatnya, upaya untuk menyelesaikan Paradoks Fermi dengan cara mencari bukti keberadaan peradaban ekstraterestrial dilakukan oleh banyak ilmuwan, pakar, para ahli, lembaga rahasia, intelijen dan tentara, hingga kelompok atau organisasi kemasyarakatan, bahkan penelitian secara individual di Bumi.

Pada 1950, fisikawan Italia, Enrico Fermi mengatakan bahwa di alam semesta sudah tersedia sumber daya dan semua syarat yang diperlukan agar kehidupan bisa berkembang.

Hanya di galaksi Bima Sakti saja, ada ratusan miliar bintang seperti Matahari yang dikelilingi oleh planet-planet mirip Bumi, tetapi mengapa manusia belum juga berhasil menemukan alien secara terang-terangan?

Apalagi galaksi di jagad raya yang jumlah sekitar dua ratus milyar galaksi dan terus ditemukan, bertambah dan bertambah, sesuai kecanggihan teleskop manusia. Namun peradaban luar sana secara terang-terangan juga belum dapat saling berkomunikasi.

Fermi juga yakin bahwa alien-alien itu memiliki pengetahuan dan peradaban yang lebih maju dari manusia, sehingga telah mampu terbang melintasi galaksi. Suatu kemampuan yang hingga kini masih berusaha dipelajari oleh peradaban manusia.

Drake Equation

Untuk mengetahui perkiraan adanya makhluk ekstraterestrial di seluruh jagad raya secara matematis dan teori kemungkinan, para ilmuwan tetap menyatakan sangat besar kemungkinannya.

Sebagai contoh kasar saja, misalkan, pada peradaban canggih manusia pada zaman ini, pengetahuan astronomi juga sudah lebih maju, dan telah mengetahui bahwa jumlah galaksi ada 200 milyar lebih, yang masing-masing galaksi memiliki puluhan hingga 500 milyaran bintang.

Maka, anggaplah hanya ada satu buah planet saja yang mampu menunjang kehidupan atau telah memiliki peradaban ekstraterestrial yang juga hanya pada tiap satu galaksi saja.

Frank Drake pencetus Drake Equation.

Jadi, jika hanya terdapat satu buah planet saja yang memiliki peradaban ekstraterestrial di setiap galaksi yang berjumlah 200 milyar, itu artinya tetap masih ada kemungkinan sebanyak 200.000.000.000 (baca: 200 milyar) planet yang kemungkinan memiliki peradaban ekstraterestrial.

Atau misalnya hanya setengahnya dari 200 milyar? Tetap saja kemungkinannya masih 100 milyar.

Atau hanya seperempat dari setengahnnya itu? Tetap saja kemungkinannya masih besar, yaitu 25 milyar. Jadi, tetap masih besar kemungkinannya khan?

Maka, dalam penghitungan untuk mengetahui perkiraan adanya makhluk ekstraterestrial, tak perlu terlalu luas sejagat raya, cukuplah dalam “lingkup kecil” yaitu “hanya” di galaksi Bima Sakti saja. Maka untuk menghitungya, persamaan itu dikenal dengan Rumus Persamaan Drake atau Drake Equation.

Persamaan Drake atau Drake Equation atau kadang-kadang disebut juga persamaan Green Bank atau rumus Green Bank, adalah persamaan yang digunakan untuk memperkirakan kemungkinan seberapa besar jumlah peradaban ekstraterestrial yang “hanya” ada di galaksi Bima Sakti saja.

Rumus ini dimanfaatkan dalam bidang astrobiologi dan badan pencarian makhluk luar angkasa yang cerdas (SETI). Perhitungan ini dirancang oleh Frank Drake, Professor Emeritus dalam bidang Astronomi dan Astrofisika di University of California, Santa Cruz.

Persamaan Drake:

{displaystyle N=R^{ast }cdot f_{p}cdot n_{e}cdot f_{ell }cdot f_{i}cdot f_{c}cdot L!}

Dimana:

N = jumlah peradaban yang dapat dihubungi di galaksi kita

R* = tingkat rata-rata pembentukan bintang per tahun di galaksi kita

fp = pecahan bintang-bintang tersebut yang punya planet

ne = jumlah rata-rata planet yang dapat mendukung kehidupan per bintang yang punya planet

f = pecahan planet yang bisa mengembangkan kehidupan

fi = pecahan planet yang bisa mengembangkan kehidupan cerdas

fc = pecahan peradaban yang telah mengembangkan teknologi untuk mengirim tanda ke luar angkasa

L = lama waktu yang diperlukan peradaban untuk mengirim tanda ke angkasa.

Perkiraan yang pernah dihitung ‘Drake Equation’:

Drake dan rekan-rekannya pada tahun 1961 pernah memperkirakan jumlah peradaban yang dapat dihubungi di galaksi kita:

  • R*= 10/tahun (10 bintang terbentuk per tahun)
  • fp = 0,5 (setengah dari semua bintang akan punya planet
  • ne = 2 (bintang dengan planet akan punya 2 planet yang mampu mendukung kehidupan)
  • fl = 1 (100% planet yang mampu mendukung kehidupan akan mengembangkan kehidupan)
  • fi = 0,01 (1% di antaranya merupakan kehidupan cerdas)
  • fc = 0,01 (1% di antaranya mampu mengembangkan teknologi untuk mengirim tanda ke luar angkasa)
  • L = 10.000 tahun

Maka:

{displaystyle N=R^{ast }cdot f_{p}cdot n_{e}cdot f_{ell }cdot f_{i}cdot f_{c}cdot L!}

N = 10 × 0.5 × 2 × 1 × 0.01 × 0.01 × 10,000

N = 10

Jadi:

Perkiraan jumlah peradaban yang dapat dihubungi di galaksi kita sebanyak 10 peradaban di luar Bumi.

Hanya dalam wilayah yang sangat kecil, teleskop luar angkasa Hubble berhasil mengabadikan ratusan galaksi di sebuah wilayah kecil di jagad raya.

Nilai R* ditentukan melalui data-data astronomi. fp kurang pasti, tetapi masih lebih pasti daripada angka-angka selanjutnya.

Nilai ne didasarkan pada tata surya kita, dengan asumsi bahwa dua planet bisa mendukung kehidupan. Asumsi ini tidak konsisten dengan flkecuali jika kita bisa menemukan kehidupan di Mars.

Selain itu, kemungkinan adanya kehidupan di objek satelit-satelit atau bulan-bulan dari planet gas raksasa, seperti bulan Europa di Yupiter, atau bulan Titan di Saturnus, mengakibatkan ketidakpastian dalam perkiraan ini.

Bukti geologis dari Bumi menunjukkan bahwa fl mungkin sangat tinggi. Kehidupan di Bumi muncul bertepatan dengan berkembangnya keadaan yang dapat mendukung kehidupan.

Sayangnya, bukti ini terlalu tertumpu pada Bumi, dan berat sebelah, karena sampel tidak dipilih secara acak. fi dan fc juga berat sebelah pada Bumi. Kritik pertama yang dituai oleh teori ini adalah bahwa perhitungan ini hanya didasarkan pada rekaan, sehingga tidak bisa digunakan untuk menarik kesimpulan.

Gambar illustrasi. Inilah “Cosmic Web” yang terlihat seperti “saraf otak” karena saling berhubungan. Cosmic web ini terdiri dari milyaran galaksi, dimana tiap galaksi yang terdiri dari kumpulan bintang yang berjumlah juga milyaran, hanyalah titik noktah di dalam peta “Cosmic web” ini.

T.J. Nelson menyatakan bahwa, “Perhitungan Drake terdiri dari kemungkinan-kemungkinan yang digabung.

Setiap faktor diperkirakan hanya antara 0 (nol) atau satu, sehingga hasilnya juga akan antara 0 hingga 1. Sayangnya semua kemungkinan ini sepenuhnya tidak diketahui.”

Bantahan lain yang muncul, adalah bahwa persamaan Drake mengasumsikan peradaban bangkit dan mati pada tata surya asal mereka, sehingga apabila kolonisasi antar-bintang dapat dilakukan, asumsi ini menjadi tidak absah, dan perhitungan dinamika populasi-lah yang akan digunakan.

Salah satu jawaban terhadap kritik-kritik di atas adalah bahwa persamaan Drake tidak dimaksud ilmiah, tetapi ditujukan untuk merangsang pembicaraan mengenai topik tersebut.

Memang, Drake pada awalnya merumuskan perhitungan ini sebagai agenda untuk perbincangan di konferensi Green Bank. Tapi, untuk mengetahui perkiraan adanya makhluk ekstraterestrial di seluruh jagad raya secara matematis dan teori kemungkinan, para ilmuwan tetap setuju dan menyatakan hal itu masih terbuka lebar dan masih sangat besar kemungkinannya.

Gambar animasi – Ada milyaran Solar System atau Sistim Tata Surya di alam semesta. Solar System adalah sistim bintang yang diorbiti oleh planet-planet.

Lagi pula, dengan begitu luasnya alam semesta, pastinya masing-masing peradaban diletakkan sangat-sangat teramat jauh bahkan dengan kecepatan cahaya sekalipun, maka kemungkinan untuk dapat berjumpa juga akan sangat-sangat teramat kecil sekali kemungkinannya.

Tapi manusia diberikan kemampuan berpikir untuk bisa berusaha. Nantinya berhasil atau tidak, itu adalah hal lain. Sudah difirmankan pula, bahwa selama suatu kaum tak mau berusaha untuk mengubah keadaan dari tak tahu menjadi tahu, maka apapun tak akan pernah diketahui. Karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS.ar-Ra’d:11).

Ya, mungkin memang Tuhan sudah mengatur itu semua, agar susah untuk saling berjumpa, namun dengan menengadah ke atas melihat langit dan jagat raya, diharapkan manusia dapat mengetahui kemungkinan keberadaan ciptaan lainnya dan sekaligus mengagungkan juga kebesaranNya. (IndoCropCircles.com)

Pustaka:

Share: